oleh

Unik, Gunung Kerinci Bertopi Awan

-Lainnya, Unik-141 views

Sumeks.c0-KERINCI-Fenomena unik terjadi di Gunung Kerinci. Rabu (9/10) sore menjelang Magrib, terlihat jelas dengan awan yang mengelilingi puncak gunung, hingga berbentuk topi atau biasanya disebut dengan awan topi. Hal ini, membuat heboh warga sekitar sehingga beberapa diantaranya sempat mengabadikan moment langka itu.

Informasi yang berhasil dihimpun, peristiwa itu terjadi pada pukul 18.00 wib.

“Biasanya Gunung Kerinci ditutupi kabut asap secara penuh, tapi sore ini sangat indah sekali seperti topi,” kata Rozi, warga Kerinci.

Dudung, Pos Penjaga R10 Gunung Kerinci, dikonfirmasi membenarkan kejadian Gunung Kerinci yang sore terlihat puncaknya tertutup awan topi. “Iya, Magrib tadi terlihat dengan jelas dari pos r10,” ujar Dudung.

Diakuinya, kejadian seperti itu memang sering terjadi saat musim kemarau panjang. Namun kali ini sambung Dudung, terlihat agak aneh dan langka dan terpantau sangat jelas. “Bahaya tidak, namun ini langka,” bebernya.

Terpisah Mardiansyah, Prakirawan Badan Meterologi Klimatogi dan Geo Fisika ( BMKG) Stasiun Depati Parbo Kerinci, menjelaskan bahwa secara ilmiah topi awan tersebut dinamakan awan lentikular.

Awan lentikular terbentuk saat udara bergerak ke atas melewati gunung, sehingga mendapat pendinginan yang cukup untuk terjadi kondensasi.

Awan lentikular, memiliki karakteristik yang spesial karena posisinya tidak bergerak layaknya awan jenis lainnya dan berbentuk padat. “Awan ini berbentuk lingkaran pipih, seperti payung layaknya gambar yang tersebar di media sosial,” jelasnya.

Ia mengatakan, awan lentikular sering terjadi disaat musim kering. Justru kalau itu terjadi, ketika lagi tidak ada hujan, jadi membentuk pertemuan suhu udara. Tapi tidak bisa menjulang ke atas, jadi mampet di pucuk atau puncak gunung karena perbedaan basah dan kering yang signifikan.

“Awan lentikular biasa ditemui di area pegunungan, terbentuknya awan ini juga disebabkan oleh topografi gunung,” bebernya.

Ia menyebutkan, fenomena ini tak langka. Ia menjelaskan, fenomena ini lazim tapi jarang terjadi. Hal ini karena awan lentikular dipengaruhi oleh topografi gunung dan tegak lurus terhadap arah angin. fenomena topi awan ini bukanlah fenomena yang harus ditakuti masyarakat.

Pasalnya, fenomena ini tidak membahayakan jiwa manusia. Akan tetapi, awan lentikular memang membuat suhu di puncak gunung menurun. Fenomena ini disebut, merupakan hal yang umum bagi para pendaki. Jadi, dia itu bukan sesuatu yang berbahaya meskipun kalau di puncak gunungnya agak dingin.

“Tetapi awan ini, jangan dijadikan sesuatu takhayul. Kalau ada kesempatan ini, diabadikan saja. Awan lentikular ini menyebabkan kendala bagi pesawat yang melewati daerah gunung tempat awan itu berada,” ungkapnya.

Hal ini karena gelombang gunung dan pusaran angin yang kencang dapat menyebabkan turbulensi ringan pada pesawat.

Sementara itu pada Selasa (08/10) kemarin, Gunung Kerinci juga sempat mengeluarkan asap putih tebal setinggi 100 Meter, yang diakibat dari gas vulkanik yang bercampur uap air. Hal ini dibenarkan langsung, Kepala Bidang (Kabid) Mitigasi Gunung Api (MGA) Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Hendra Gunawan.

“Hanya awan putih tebal, bukan erupsi,” kata Mardiansyah.

Dikatakannya bahwa, Gunung Kerinci, pada tanggal 08 Oktober 2019 pukul 00:00-24:00 WIB cuaca terlihat cerah, mendung dan hujan. Angin bertiup sedang ke arah barat dengan suhu udara 22-25 °C, kelembaban udara 61-68 %, dan tekanan udara 0-0 mmHg.

Gunung terlihat jelas, kabut 0-I, kabut 0-II, hingga kabut 0-III. Asap kawah bertekanan kuat, teramati berwarna putih dengan intensitas tebal dan tinggi 100-150 m di atas puncak kawah. “Meskipun demikian, saat ini Gunung Kerinci berada pada status Level II Waspada,” tegasnya.

Terkait dengan kejadian itu, Badan Geologi mengimbau masyarakat sekitar Gunung Kerinci dan wisatawan tidak mendaki dan beraktivitas dalam radius 3 km dari kawah aktif yang berada di puncak gunung.

Badan Geologi juga mengimbau, jalur penerbangan di sekitar Gunung Kerinci dihindari. “Karena sewaktu-waktu masih memiliki potensi letusan abu dengan ketinggian yang dapat mengganggu jalur penerbangan,” pungkasnya. (adi)

 

Komentar

Berita Lainnya