oleh

Wakil Rakyat Dapil Sumsel ini Sesalkan Kekerasan Terhadap Perawat

SUMEKS.CO, RUPIT – Kasus penganiayaan seorang perawat di RS Siloam Sriwijaya Palembang yang terjadi, Kamis (15/4) menjadi perhatian anggota DPR RI Fauzi H Amro. Anggota Komisi XI DPR Partai Nasdem ini sangat menyesalkan adanya bentuk kekerasan itu.

Ahad (18/4), melalui kontak pribadi angota DPR RI ini, mengatakan prihatin dan menyesalkan adanya insident penganiayaan kepada seorang perawat di RS Siloam Sriwijaya Palembang, yang dilakukan oleh seorang pria, keluarga pasien.

“Sebagai anggota DPR RI yang berasal dari dapil Sumatera Selatan 1. Pertama saya prihatin yang dialami seorang perawat di Palembang. Kedua, sangat menyesalkan tindakan arogan yang berujung penganiyaan pada perawat di Palembang,” kata Fauzi H Amro.

Menurut Fauzi Amro, seharusnya yang bersangkutan sebagai keluarga pasien bisa bersabar. Mengingat setiap tindakan yang dilakukan tenaga medis harus sesuai SOP, dan terlebih lagi saat ini bulan suci Ramadan.

Dia meminta, masyarakat mesti menghargai tenaga medis yang menjadi garda terdepan dalam menangani berbagai penyakit, termasuk menangani pasien yang terpapar COVID-19. “Kalau anda mau dihargai, maka hargailah orang lain,” imbuhnya.

Dia mengapresiasi langkah cepat pihak kepolisian mengusut kasus tersebut serta menangkap pelakunya. “Alhamdulillah pelaku sudah diamankan petugas,” ujar alumnus HMI ini. Dia berharap kasus penganiayaan kepada perawat tidak terulang di kemudian hari.

Sementara itu, Ketua PPNI Kabupaten Muratara, Nelly mengatakan, pihsknya sangat mengutuk keras aksi kekerasa yang dilakukan terhadap perawat RS Siloam Sriwijaya Palembang itu. Pihaknya meminta pelaku dihukum dan diproses sesuai hukum yang berlaku.

Nelly mengaku kekekerasan terhadap tenaga medis yang dilakukan oleh pasien maupun keluarga pasien, bukan hanya terjadi kali ini. Namun kejadian itu sudah terjadi berkali kali, bahkan di wilayah Kabupaten Muratara sendiri.

Seperti insident pemukulan terhadap Dr Yoga saat memberikan pelayanan medis di UGD RSUD Rupit 2018 lalu. Dia sempat ditonjok keluarga pasien yang mengamuk hingga berdarah, dan diancam dibunuh dengan senjata tajam saat bertugas.

“Bukan itu saja ada banyak juga kasus yang lain serupa, ada yang kita laporkan ada yang kita mediasi. Kekerasan terhadap tenaga medis itu tidak dibenarkan, dan ada hukum yang mesti ditegakkan,” ujarnya.

Nelly mengomentari, gesekan antara pasien dan tenaga medis sering diakibatkan oleh miskomunikasi. Menurutnya, sebelum memberikan tindakan tenaga medis wajib memberikan keterangan dan informasi ke keluarga pasien.

“Itu SOP yang mesti dijalani, kadang kala saat memberikan pelayanan komunikasi semacam ini tidak mereka dilakukan. Atau saat penyampaiannya informasi yang diberikan kurang jelas. Bagi seluruh tenaga madis saya ingatkan jalankan tugas sesuai SOP,” tutupnya. (cj13)

Komentar

Berita Lainnya