oleh

Wako Pagaralam Bentuk Timsus Tangani Covid-19 

PAGARALAM – Walikota Pagaralam, Alpian Maskoni SH menegaskan, khusus pejabat di lingkungan Pemerintah Kota Pagaralam yang melakukan perjalanan dinas atau Dinas Luar (DL) akan di stop, kecuali yang diundang atau Rapat Penting.

“Untuk pejabat di Pemkot yang melakukan DL saya akan stop dahulu, kecuali yang diundang. Karena ada dua kategori untuk DL itu, yakni koordinasi atau diundang untuk menghadiri suatu acara,” terang Kak Pian.

Kalau diundang untuk menghadiri acara sebut Kak Pian, berarti ada kewajiban untuk datang atau hadir, semisal diundang oleh Gubernur, Kementerian dan lainnya. Tapi, untuk yang sifatnya koordinasi akan di stop. “Tapi ini, yang saya garis bawahi itu untuk pejabat Pemkot,” tegasnya.

Sedangkan untuk langkah antisipasi bagi warga yang berkumpul tambah Kak Pian, pihaknya memberikan imbauan.

Pagaralam juga telah membentu Tim Khusus untuk epnanganan Covid-19 ini yang diketuai lan gsung oleh tenaga ahli dokter spesialis penyakit dalam yang ada di RSUD Besemah.

“Untuk di Kota Pagaralam sendiri, seperti yang saya bilang, alhamdulillah Pagaralam masih aman,” tegasnya seraya mengatakan  dirinya  tidak akan membuat imbauan untuk tidak ke Masjid atau sebagainya.

Masyarakat tetap dengan rutinitas yang ada, tapi tetap menjaga kesehatan, tetap berusaha menjaga kebugaran tubuh, makan yang cukup dan istirahat yang cukup.

“Begitu pula bagi yang gemar berolahraga, silakan untuk berolahraga, jangan membelenggu dan membuat diri kita untuk takut sendiri,” pungkasnya.

Terpisah, Ketua Tim Medis  Penanganan Covid-19, dr Merianson menuturkan, untuk peralatan ataupun fasilitas yang telah disiapkan di Ruang Isolasi, yakni Alat Pelindungan Diri (APD) standar, kemudian alat-alat bantu penanganan pasien suspect Covid-19.

“Kita sudah ada Tim Covid-19, untuk nomor contact yang bisa dihubungi, sudah kita berikan di setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemkot Pagaralam, begitu pula di Puskesmas. Kan ada suspect dan orang dalam pemantauan, jadi kita pilah-pilah kriteria itu dari anastesi pasiennya,” paparnya.

Untuk laporan dari masyarakat, adanya suspect maupun orang dalam pemantauan ini ? diakui Merianson, sejauh ini pihaknya belum menemukan hal tersebut.

“Belum ada, kalau untuk kasus-kasus demikian itu,” pungkasnya.

Libur Sekolah, Lihat Dulu Perkembangan “Dasar hukumnya itu harus jelas. Bila ingin meliburkan sekolah ataupun pegawai, itu yang harus dapat kita pahami. Kondisinya apakah seperti yang mengharuskan kita untuk meliburkan atau belum,” kutipan ini disampaikan Walikota Pagaralam Alpian Maskoni SH, saat mengecek kesiapan Ruang Isolasi Semantara Covid-19 di RSUD Besemah, kemarin.

Karena bila secara regional kata Kak Pian, khusus wilayah Provinsi Sumsel, baru sebatas siaga Covid-19. “Makanya, kita masih melihat dulu perkembangannya. Saya juga akan meminta pendapat dari Dinas Kesehatan (Dinkes), setelah itu baru akan kita simpulkan, apakah saatnya untuk meliburkan atau belum,” terangnya.

Beranjak dari hal itulah tambah Kak Pian, ada hal yang harus dipahami, kenapa libur itu harus 2 Minggu atau 14 hari ? Ini tentunya terkait dengan masa inkubasi, akan tetapi tingkat kedisiplinan dari libur ini kerap tak terlihat.

“Seperti halnya di Jakarta, libur selama 14 hari, orang-orang di Jakarta yang diharapkan harus diam di rumah, tapi kan banyak juga pulang ke kampung halaman, berarti inikan tidak efektif dan berjalan. Niat untuk meliburkan dan memutus mata rantai Covid-19 tidak terjadi,” imbuhnya.

Jadi inilah pula sambung Kak Pian perlu disampaikan kepada masyarakat, bahwa libur yang diberikan itu pengertiannya bukan liburan, melainkan bekerja di rumah, kalau Sekolah itu belajar di rumah.

“Anak-anak di Jakarta itu, dengan libur ini orangtuanya bukan enak, harus membantu anak-anak bekerja dengan aplikasi yang ada. Sekolah itu bisa lewat video call, atau rekam video yang dikirim ke WA. Dan ini yang harus bisa kita pahami. Takutnya, pengertian ini liburan,” tandasnya. (ald)

 

Komentar

Berita Lainnya