oleh

Walhi Sumsel Kecam Pertunjukan Lumba Lumba

PALEMBANG – Pertunjukan sirkus lumba-lumba dianggap mengeksploitasi hewan. Seperti yang ada di kawasan parkir PTC Palembang saat ini. Membuat Direktur Walhi Sumsel, Hairul Sobri angkat bicara. Pihaknya mengecam upaya penyelenggara yang dianggap tidak memberikan kebebasan bagi hewan ini untuk hidup di alamnya.

Sebab, dibeberapa Negara maju, dan daerah lain di Indonesia, pemerintah setempat sudah menyadari hal ini sehingga melarang aksi dan pertunjukan yang melibatkan hewan liar dan dilindungi seperti lumba-lumba ini. Bahkan banyak pula NGO yang bergerak dan melakukan kampanye anti eksploitasi hewan untuk dijadikan bisnis.

“Hewan ini punya hak untuk hidup. Jelas kami mengecam aksi pertunjukan yang mempertontonkan eksploitasi hewan seperti ini. Mengingat mereka seharusnya hidup dilepasliarkan di habitatnya,”kata Sobri.

Atraksi lumba lumba yang dianggap mengeksploitasi hewan. (Nurasiah/sumeks.co)

Justru sebaliknya, aturan yang belum ada, menjadi ajang bagi pengelola untuk meraup keuntungan. Padahal, seharusnya hewan – hewan ini lanjut Sobri ada bersama habitatnya. Beberapa alasan dijelaskannya,  diantaranya, mulai dari proses pemindahan lumba-lumba tersebut yang terkadang tidak memenuhi standar dari satu kota ke kota lain.

Kemudian, lanjut Sobri Lumba Lumba untuk pertunjukan ini cenderung dilatih dengan kekerasan agar mereka menurut dengan pelatih. Dari sana, lantaran tidak berada di habitat aslinya, maka hewan ini memiliki umur yang lebih pendek. “Bayangkan, setiap hari lumba lumba ini dan mungkin hewan lain, diperdengarkan suara (sound) dan teriakan penonton yang tak mereka dapatkan di habitat aslinya,”kata Sobri.

Pemahaman ini, seharusnya disampaikan ke masyarakat oleh pemerintah. Salah satu yang bisa menjadi garda terdepan lanjutnya adalah Dinas Perikanan Kota Palembang, BKSDA hingga akademisi. Terberat, tentunya tidak diberikan izin untuk mengadakan kegiatan ini jika masih tetap memakai hewan yang dilindungi. (aja)

Komentar

Berita Lainnya