oleh

Walikota Pagaralam Resmikan Monumen Perjuangan Perang Setanahan

PAGARALAM – Peristiwa masa lampau di Kota Pagaralam kerap diketahui dari lisan. Hal ini membuat peristiwa yang sejatinya bersejarah, rentan terlupakan. Maka, Walikota Pagaralam Alpian Maskoni SH menyarankan, supaya sejarah masa lalu ini dituliskan.

“Kalau penuturnya sudah tiada, akan kesulitan untuk mengetahui sejarahnya,” ujar Kak Pian ditemui koran ini setelah menandatangani dan meresmikan monumen perjuangan Perang Setanahan di Dusun Gunung Agung Pauh, Kelurahan Agung Lawangan, Kecamatan Dempo Utara, kemarin.

Lanjut Kak Pian, sejarah yang ditulis akan membuat jalan ceritanya diketahui banyak orang. Orang yang membacanya pun, serasa seperti jalan-jalan ke dalam museum. Artinya orang yang membaca, wawasannya bertambah. Tulisan ini akan semakin berfungsi ketika dibaca wisatawan luar. Mereka akan tertarik untuk datang ke Pagaralam. “Saya yakin wisatawan akan tertarik,” ucapnya.

Karenanya Kak Pian menambahkan, telah meminta dinas terkait untuk memulai melakukan penulisan tentang sejarah masa lalu di Pagaralam. Misalnya sebut Kak Pian sejarah perang kemerdekaan yang dulu pernah berkobar di Pagaralam.

Kecamuk Masa Lalu

Monumen Perang Setanahan sendiri dibangun untuk mengenang perjuangan para pahlawan republik dalam merebut kemerdekaan dari asing. Perang ini berkecamuk di Dusun Gunung Agung Pauh. Pejuang berhadap-hadapan dengan tentara Jepang yang ingin menguasai bumi pertiwa. Peristiwa yang terjadi sekitar tahun 1944-1945 ini lalu dinamai dengan Perang Setanahan.

Sejarah perang itu memang nyaris tak pernah diajarkan di bangku sekolah. Tak heran bila generasi muda sekarang ada yang tak mengetahui jalannya perang. Maka, Forum Kerasian Sosial (FKS) Margedipe membangun monumennya. “Dinamakan Perang Setanahan karena berlangsung di darat. Jepang saat itu tak menggunakan pesawat terbang untuk berperang di sini,” ujar Burni, Ketua FKS Margedipe.

Burni mengetahui cerita tentang Perang Setanahan ini dari penuturan sang paman, Akip bin Sandar. Akip menurut Burni ikut terlibat dalam perang Setanahan dan sering menceritakan kisahnya kepada anak maupun keponakannya. Maka cerita peperangan ini tak putus.

Menurut Burni, mengutip dari cerita sang paman, Perang Setanahan berkobar setelah pejuang memutuskan untuk menghadang longmarch tentara Jepang. Saat itu, kata dia, Jepang hendak menguasai Gunung Agung Pauh dan kemudian akan begerak ke Tanjung Sakti. “Ketika Jepang sampai di dekat tikungan, pejuang kita mulai menembak,” ucapnya. Tikungan jalan itu kini masih ada. Persisnya di depan SDN 41 Gunung Agung Pauh.

efdinal, seorang pemerhati sejarah dan budaya Besemah mengatakan, setidaknya ada 31  nama pejuang yang ikut serta dalam Perang Setanahan. Hal ini berdasarkan cerita dari warga Dusun Gunung Agung Pauh. “Nama-namanya saya catat,” ujar Refdinal ketika di konfirmasi. (Ald)

 

Komentar

Berita Lainnya