oleh

Warga NU Respons Puisi Fadli Zon

-Nasional-1.045 views
JAKARTAPuisi Fadli Zon tuai gugatan karena dianggap menghina warga Nahdlatul Ulama (NU). Ini karena Fadli Zon tidak punya itikad baik mencairkan suasana. Sebab, dia tidak mau meminta maaf setelah dinilai mencemooh doa KH Maimun Zubai. Atau Mbah Moen melalui puisinya.
Sikap ini lalu direspon warga NU. Diskusi publik ‘Politik Ala Dajjal? Membegal Doa Kyai’ pun digelar Selasa (12/2). Diskusi ini diprakarsai Master C19 Portal KMA. Venuenya di Markas Terpadu C19 Poros Laskar Nyata Kiai Ma’ruf Amin (Master C19 Portal KMA) di Jalan Cirebon No. 19, Menteng, Jakarta Pusat. Sebagai narasumber diskusi, KH Nurul Ishak pun menghimbau Fadli Zoen untuk meminta maaf pada Mbah Moen dan Warga NU. Sebab, puisi yang diciptakan Fadli Zon sangat menyakiti perasaan santri dan kiai.

“Warga NU ini sagat geram dengan puisi Fadli Zon. Ada banyak kyai yang semakin kecewa dengan sikap Fadli Zon. Dia tidak bereaksi apa-apa terkait puisi Fadli Zon ini,” ungkap KH Nurul Ishak, Selasa (12/2).

Menanggapi sikap pasif Fadli Zon, aksi nyata harus dilakukan. Sebab, beragam kajian melalui diskusi khusus sudah dilakukan. Kesimpulannya relatif sama. Puisi dan sikap Fadli Zon dinilai tidak etis. Semua sepakat, Fadli Zon harus meminta maaf secara terbuka. “Sekarang tidak perlu banyak diskusi lagi. Warga NU harus bergerak merespon ini. Apalagi Fadli Zon tidak mau minta maaf,” tegasnya lagi.

Opini serupa dilontarkan Pengamat Politik Karyono Wibowo. Karyono beropini, puisi Fadli Zon menjadi blunder besar yang dilakukannya. Suasana menjadi semakin keruh karena Fadli Zon tidak menakar efek negatif bawaan dari puisinya itu. “Puisi Fadli Zon ini sebenarnya menampar dirinya sendiri. Dia itu menampar wajahnya sendiri. Potensi efek bawaannya tidak dilihat,” kata Karyono.

Lebih lanjut, Karyono pun membedah puisi ciptaan Fadli Zon. Puisi tersebut dinilainya tidak memenuhi aspek estetika. Kering unsur puitis, Fadli Zon justru lebih menonjolkan aspek politis. Pasalnya, diksi dalam puisi Fadli Zon sangat standar. Jauh dari nilai-nilai seni. Justru lebih dominan dengan kata-kata politis yang menohok. “Menurut saya ini salah satu kepanikan Fadli Zon dalam menghadapi realitas politik saat ini,” tuturnya.

Putra Cawapres 01 KH Ma’ruf Amin, Ahmad Syauqi Ma’ruf Amin juga ikut menyayangkan keluarnya puisi Fadli Zon. Gus Oqi-panggilan akrab Kiai Ma’ruf-menilai tidak ada yang salah dari doa Mbah Moen. “Coba dengarkan dan cermati sekali lagi doa Mbah Moen. Itu jelas-jelas Mbah Moen mengatakan bahwa orang di samping saya jadikan presiden. Presidennya Pak Prabowo,” tegas Gus Oqi.

Mensikapi puisi Fadli Zon, Gus Oqi pun merasa bingung. Apa yang sebenarnya dipermasalahkan oleh Fadli Zon dari doa Mbah Moen. Putra kelima Kiai Ma’ruf ini menegaskan, tidak ada pengulangan doa. Akan tetapi, penegasan. Namun, doa yang dipanjatkan Mbah Moen tetap sama. “Karena tidak ada yang salah dari doa Mbah Moen. Diulang seribu kali pun tetep begitu,” ucapnya. (kmd)

Komentar

Berita Lainnya