oleh

Warga Pertanyakan Ramai Polisi Di Merapi Area

LAHAT – Ramainya anggota kepolisian di Kecamatan Merapi Barat Kabupaten Lahat menimbulkan tanda tanya sebagian warga. Seolah- olah ada akan terjadi sesuatu yang menghebohkan.

Evan Yusup warga Desa Ulak Pandan, Merapi Barat mengungkapkan bahwa terlihat  wara-wirinya anggota kepolisian di Kecamatan Merapi Barat Kabupaten Lahat dalam beberapa hari ini menjadi tanda tanya sebagian masyarakat.

Apa lagi terlihat dibeberapa titik lokasi,  ada yang berjaga di Desa,  telihat juga disimpang jalan telatang dan terlihat juga kantor perusahaan pertambangan PT. BAU bahkan di stock file pun terlihat polisi juga berjaga-jaga.

Terkait rame-rame pihak kepolisian Saat ini berada di kawasan PT. BAU menjadi pertanyaan khususnya bagi warga Ulak Pandan. Dikarenakan warga ulak pandan sedang ada sengketa dengan Pihak PT. BAU terkait perusakan hutan adat,  pemakaman leluhur yang sampai saat ini belum selesai.

Lanjut Evan, bahwa dari Selasa , (11/2). ‘ sebelumnya sudah ada isu yang berkembang bahwa esok harinya Rabu, (12/2) akan ada Demo Masyarakat Ulak Pandan. Padahal, menurutnya warga ulak pandan tidak ada pergerakan untuk rencana demo. “Bahkan Rabu siang (12/2/) sudah banyak rekan kepolisian dan media mempertanyakan bahwa benar tidaknya akan ada warga  desa yang mau demo, sedangkan kami saat mau demo ataupun ada kegiatan keramaian akan selalu berkoordinasi terlebih dahulu jadi ini kami rasa sedikit janggal tidak ada pergerakan atau pun rencana demo tau-tau aparat kepolisian sudah ramai dengan dalih bahwa ada demo warga, Ada apa ini??,” ujar Evan penggiat kampung ini berkomentar.

Menyikapi adanya kepolisian di PT. BAU. Menurut Evan bahwa pihaknya sudah dapat informasi bahwa Pihak PT. BAU sudah melakukan aktivitas pertambangan dari tanggal (12-14) kembali bahkan sudah holing. “Menyikapi ini semua, kami akan bertindak karena ini sudah dzolim, mereka pengusaha sangat tidak menghargai semua pihak, memaksakan diri tanpa berpikir dampaknya. Karena apa yang mereka lakukan bisa berpotensi memunculkan konflik, kami juga akan selusuri sebatas mana kenetralan aparat kepolisian karena merekalah yang dulu meminta warga agar tidak melakukan aksi agar tidak terjadi konflik dan berjanji akan memastikan pihak BAU tidak melakukan aktivitas pertambangan sampai sengketa ini selesai. Tetapi hari ini justru aparat kepolisianlah yang pertama kali

berada di lokasi pertambangan dengan alasan bahwa masyarakat akan demo padahal masyarakat ulak pandan tidak ada demo sama sekali jadi patut kami duga bahwa kepolisian sudah menghetahui bahwa PT. BAU akan melakukan aktivitas pertambangan apalagi personil yang diturunkan jumlahnya sampai ratusan orang, apalagi ada Brimob dan petugas yang bersenjata lengkap,” beber Evan didampingi beberapa perangkat desa.

Saat ini masyarakat sudah stanbye. pihaknya selama dua hari ini memastikan dulu kebenaran informasi ini,  rupanya benar PT. BAU sudah melakukan aktivitasnya. Maka pihaknya tidak akan tinggal diam,  karena jelas BAU sudah merusak hutan adat,  makam leluhur bahkan mengambil batu bara yang ada dihutan adat himbe kemulau. Jikalau ada aparat kepolisian disana dan tidak berusaha mencegah dan tetap membiarkan aktivitas pertambangan dan terkesan justru mengawal dan mengamankan operasional pertambangan maka akan kami laporkan ke Presiden, Kapolri.  Bahkan Kapolda dan Gubernur.  “Kami ini  memperjuangkan hak kami, kami sangat berharap pihak kepolisian itu mengayomi, melindungi dan melayani masyarakat bukan justru terkesan diduga membekingi perusahaan apalagi membawa senjata lengkap. Apa lagi kami selama ini selalu menghargai aparat kepolisian dan semoga dugaan kami terhadap kepolisian ini salah,” tegas Evan.

Sementara itu A (40) dan TR (55) warga Ulak Pandan mengaku terlihat ratusan aparat kepolisian,  diperkirakan lebih dari 15 kendaraan terparkir di area PT. BAU dalam beberapa hari ini.

Begitupun Jangcik salah satu warga Telatang yang melintas dan melihat keramaian kepolisian pun berkomentar. “Saya kira tadi ade warga yang akan demo rupanya rombongan anggota polisi,  kami kira mereka mau nutup cafe dimuara lawai atau mau mengamankan teroris,” ujarnya.

Kapolres Lahat AKBP Irwansyah S.Ik MH CLA mengungkapkan bahwa memang saat ini di Lahat terutama Merapi ada beberapa konflik, bukan banya PT BAU. Untuk itu, pihaknya berkewajiban menjaga kamtibmas agar tetap aman. “Memang ada sengketa. Masalah itu perdata ada yang boleh dan tidak boleh. Kita hadir disini untuk melakukan penjagaan baik diminta atau tidak diminta,” ujar Kapolres.

Bupati Lahat Cik Ujang SH mengungkapkan banyaknya tambang berpotens adanya konflik masyarakat. Saat ini ada permasalahan masyarakat dengan PT BAU. Bahwa ada lahan milik tiga desa.”Namun saat proses negosiasi dan ksepakatan berjalan, tapi Desa Ulak Pandan belum ada kesapakatan. Kemudian ada kesepakan tapi mundur penyelasaiaannya. Mungkin ada apa kita tidak tahu. Kita inginkan perusahaan aman dan damai. Namun kita juga tetap inginkan jangan ada permasalahan dengan masyarakat. Nanti akan kami panggil perusahaan  dan masyarakat, guna proses penyelesaian,” tambah Bupati.(gti)

Komentar

Berita Lainnya