oleh

Warga SAD Belum Merdeka Sepenuhnya

MURATARA – Perayaan hut kemerdekan RI menjadi momentum spesial, bagi warga Suku Anak Dalam (SAD) di Kabupaten Muratara. Meski ikut berbagi kegembiraan, mereka mengaku SAD belum sepenuhnya merdeka.

Kepala Suku SAD Kabupaten Muratara, Jafarin saat dibincangi di mes SAD di Desa Lawang Agung, Kecamatan Rupit, Kabupaten Muratara Senin (17/8) sekitar pukul 11.00 WIB, menuturkan. Saat ini masih banyak warga mereka yang melakukan tradisi ‘melangun’ atau hidup nomaden.

Tidak jarng warga SAD merantau sampai ke wilayah tetangga seperti Jambi, Muba, Pali dan Musi Rawas untuk memenuhi kebutuhan hidup  dengan cara menelusuri hutan hutan bersama sanak keluarganya.

“Masih banyak warga kita yang melangun, alasanya karena kebutuhan hidup dan ekonomi. Karena mereka belum sejahterah. Mau tidak mau harus mencari kebutuhan sampai berpindah pindah lokasi,” katanya.

Jafarin kembali menegaskan, kondisi warga SAD sampai saat ini masih setengah merdeka dan belum merdeka secara total. Meski saat ini perhatian Pemerintah sudah mulai sedikit demi sedikit, memerikan harapan bagi warga SAD.

Namun tidak sedikit juga warga SAD yang merasa terkucilkan akibat pesatnya investasi perusahaan perkebunan yang kian mengikis hutan rimba yang biasa mereka tinggali.

“Kami mau tidak mau harus ikut berubah, alhamdulillah saat ini sudah ada perhatian dari pemerintah. Walau masih banyak warga SAD yang belum tersentuh pembangunan,” ucapnya. “Memang mereka yang melangun belum merasa merdeka karena pengaruh ekonomi. Tapi kalau kebutuhan mereka tercukupi, mereka sama seperti kita,” ujarnya.

Jafarin mengatakan tidak ada pesan mendalam mendalam, untuk hut kemerdekaan RI ke 75 kali ini. Dia mengatakan warga SAD hanya mengikuti arus yang tengah mereka jalani. “Walau tidak sempurna, tapi tetap kita jalankan syriat yang ada,” tegasnya singkat.

Soleh pelajar mes SAD Muratara yang sempat dibincangi mengaku, cukup haru saat mengikuti perlombaan hut 17 Agustus yang diadakan pengelola asrama. Dia mengatakan semakin optimis bisa mengejar cita cita menjadi aparatur negara.

“Hari ini upacara bendera disambung dengan lomba lomba. Saya betah di sini selain belajar bersama, sekolah dan lainnya. Nanti sudah tamat sekolah, saya mau masuk jadi polisi,” katanya.

Dia mengaku sebelum memasuki asrama SAD yang dikelola pemerintah daerah, dia hanya mengikuti orang tuanya berburu di dalam hutan. Dan tidak banyak tahu mengenai dunia luar.

“Waktu belum sekolah di sini, say cuma ikut orang tua dan mengasuh adik. Tapi setelah belajar saya senang, bisa belajar bersama teman teman,” tutupnya.(cj13)

Komentar

Berita Lainnya