oleh

Wartawan Istana Gagal Tes Corona, Dirut RSUP Persahabatan: Makanya Jangan Cari Jumlah Pasien, Tapi Juga Beri Edukasi

SUMEKS.CO – Kejadian tidak mengenakan yang dialami puluhan wartawan Istana Kepresidenan di Rumah Sakit Umum Persahabatan, Minggu (15/3) kemarin, diklarifikasi oleh Direktur Utamanya, Rita Rogayah.

Dokter spesialis paru-paru ini mengaku tidak bermaksud mengacuhkan sekira 30 wartawan Istana yang hendak memeriksakan kesehatannya terkait Covid-19.

“Memang waktu saat wartawan banyak di (RS) Persahabatan, kami semua sedang mengadakan pertemuan yang kami anggap penting untuk pelayanan pasien,” ungkapnya dalam jumpa pers di RSUP Persahabatan, Pulo Gadung, Jakarta Timur, Senin (16/3).

“Bukan kami tidak ada, kami ada. Jadi saya mohon maaf,” pintanya. Tapi statement menarik disampaikan Rita Rogayah. Di mana ia beranggapan kalau para wartawan Istana yang hendak memeriksakaan kesehatannya cendrung panik.

Sementara faktanya, para wartawan ini merasa khawatir dirinya terjangkit corona, karena telah melakukan kontak langsung dengan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, dalam tempo waktu 2 minggu belakangan.

Seperti berbelit, dia mengatakan, tidak mau menjustifikasi langsung para wartawan yang melakukan kontak jarak dekat dengan Menhub yang kini positif terjangkit corona.

“Sebetulnya kami tau bapak-bapak ini semuanya takut. Kalau tadi bapak mengisi form, kemudian datang sesuai alur yang kami buat, pasti bapak gabung dengan pasien-pasien yang bergejala (terjangkit corona). Makanya kami mau meyakini, yang tadinya tidak ada apa-apa, jangan sampai gabung dengan yang bergejala,” jelasnya.

Lebih lanjut, Rita Rogayah juga menjawab pertanyaan seorang wartawan Istana yang hadir dalam jumpa pers hari ini, tentang kepastian mekanisme pemeriksaan corona. Sebab secara nyata, puluhan wartawan yang datang ke RSUP Persahabatan tidak diberikan pelayanan kesehatan apapun.
Bukan menjawab secara sistematis, justru Rita Rogayah malah terkesan menyalahkan wartawan.

“Soal pertanyaan, wartawan aja panik gimana masyarakat? Makanya saya pikir, waduh wartawan belum nyimak. Makanya jangan hanya mencari jumlah pasien, tapi juga memberikan edukasi,” demikian Rita Rogayah. (rmol.id)

Komentar

Berita Lainnya