oleh

Waspada, Oktober Hadapi Banjir dan Tanah Longsor

-Sumsel-121 views

MURATARA – Pemerintah Daerah melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLHP) meminta masyarakat waspada bencana tanah longsor dan banjir bandang di sekitar aliran sungai. Dampak Kemarau dan maraknya masyarakat membuka perkebunan sawit di hulu aliran sungai. Dianggap mengancam resapan air di sepanjang aliran sungai.

Kepala DLH-P Muratara, Zulkifli mengungkapkan pihaknya sebelumnya sudah melakukan rapat koordinasi lintas sektor membahas dampak kerusakan lingkungan khususnya di sepanjang aliran sungai di wilayah Kabupaten Muratara.

Maraknya, aksi perambahan hutan dan menjamurnya perkebunan sawit di sepanjang aliran sungai. Dianggap mengancam sumber resapan air tanah dan menimbulkan dampak banjir bandang. “Perlu ada upaya nyata yang harus dilakukan untuk mengantisipasi bencana itu. Kita sudah koordinasi dengan KLHK supaya di TNKS pengawasan ditingkatkan. Harus ada reboisasi jarak 100 meter sepanjang Daerah Aliran Sungai (Das) tidak boleh ada perkebunan sawit,” katanya, kemarin (13/10).

Dia mengatakan, di 2017 pasca peralihan musim panas ke musim penghujan dengan durasi curah hujan 6 jam/hari. Mengakibatkan belasan jembatan penghubung di wilayah Muratara putus dan ribuan penduduk terkepung banjir. Jika dibandingkan dengan kondisi di 2019 akhir, pihaknya memprediksi bencana banjir pasti terulang kembali.

“Itu karena banyak hutan kita gundul, sendimen sungai mendangkal dan tidak ada lagi resapan air tanah karena hutan banyak terbakar. Mungkin dengan curah hujan 4 jam/hari, sudah bisa mengakibatkan banjir disertai tanah longsor,” bebernya.

Pihaknya berharap, selain masyarakat di sekitar aliran sungai meningkatkan ke waspadaan. Warga juga harus mendukung upaya antisipasi, seperti ikut melakukan penghijauan di sepanjang Daerah aliran sungai. “Mau di tanam petai, beringin, durian, atau yang lainnya terserah. Yang penting ada penghijauan di sepanjang aliran sungai,” tutupnya.

Sementara itu, Iwan warga Desa Batu Gajah Baru yang sempat dibincangi mengungkapkan, kemarau yang terjadi di wilayah Muratara sampai saat ini belum berakhir dan masyarakat masih alami kesulitan air bersih. Dia membenarkan, jika wilayah Muratara merupakan daerah langganan banjir. Namun banjir bandang dengan luapan lumpur sering terjadi saat musim peralihan.

“Banjir yang paling besar terjadi di 1990 dan 2017. Sungai sampai meluap ke akses jalan, mudah-mudahan tahun ini tidak seperti itu,” ungkapnya. Dia juga membenarkan, bencana banjir kerap kali disertai banjir bandang, lantaran banyak areal perbukitan yang longsor dan terbis setelah di timpa hujan.

“Di wilayah kita merata banyak warga berkayu, hutan-hutan banyak di tebang. Sudah jarang ada lagi pohon-pohon besar di sekitar Desa,” ungkapnya. Terpisah, Kepala BPBD Muratara Syarmidi mengungkapkan, pihaknya mengaku sudah mempersiapkan personil maupun peralatan untuk menghadapi potensi banjir di wilayah Muratara.

Dia membenarkan jika wilayah Muratara merupakan daerah langganan bencana seperti banjir dan tanah longsor. BPBD menginformasikan kemungkinan intensitas hujan akan meningkat di pertengahan oktober mendatang. “Untuk warga kita minta tetap waspada khususnya warga yang tinggal di sepanjang aliran sungai. Untuk personil dan peralatan sudah kita siagakan,” tutupnya.(cj13)

Komentar

Berita Lainnya