oleh

Waw, Pengepul Lipan Tembus Pasar Vietnam

-Unik-96 views

Sumeks.co. Pagi itu,  kira-kira pukul 10.00 wib, empat orang perempuan tengah asik menusuk lipan atau kelabang pada lidi pipih yang terbuat dari pelepah sawit. Tangan mereka begitu cekat dan cepat.

Satu per satu kelabang berukuran kira-kira 15 sentimeter ditusuk, kemudian diletakkan pada mangkok sedang atau kotak gabus yang telah disiapkan.Sepintas, kerja mereka ini seperti kerja ibu-ibu di kampung yang sedang gotong royong memasak untuk helatan pesta warga setempat.

Bermodalkan pisau cuter, meja kecil dan dulang, mereka seolah-olah lagi mengolah bumbu atau memotong daging. Padahal tidak begitu. Mereka sibuk dengan lipan. Binatang berbisa, yang cukup berbahaya jika tersengat.

“Binatang ini sudah mati. Jadi aman,” kata Titin, salah satu pekerja di situ. Titin sendiri bekerja untuk Ricky Santri Kurniawan, pemuda tanggung di Dusun Belimbing, Desa Melati II, Kecamatan Perbaungan, Serdangbedagai, Sumatera Utara. Pemuda berusia 21 tahun ini, pada 4 Agustus lalu baru saja mencatatkan namanya sebagai orang pertama di Sumut yang berhasil mengekspor kelabang ke Vietnam.

Titin, bersama karyawan lain, hanya bekerja menusuk lipan. Mereka diupah berdasarkan jumlah lipan yang mereka tusuk, dari pagi hingga sore. Tapi, saat ditanya berapa upahnya, dia enggan bercerita. “Lumayanlah. Untuk menutupi kebutuhan,” jawabnya sambil tersenyum.

Usaha kelabang Ricky di rumahnya ini bermula dari ayahnya, Rusmin. Usaha ini telah dirintis Rusmin sejak 1986 silam, saat masih lajang. Saat itu, dia hanya menjual lipan hidup. Pasarnya saat itu lumayan menjanjikan, terutama untuk pasaran Medan dan Jakarta.

“Dulu banyak orang mencari lipan hidup untuk makan ikan arwana,” kata Rusmin.

Usaha ini terus berlanjut hingga dia berumah tangga. Di usianya yang berangsur senja, usaha ini kemudian dilanjutkan anak bungsunya, Ricky pada 2015 silam. Di tangan Ricky, usaha ini mulai berkembang.

Pasarnya bukan Medan atau Jakarta saja. Pelan-pelan, pembeli dari Surabaya dan beberapa daerah lain mulai melirik kelabang yang dikumpulkan Ricky dari warga sekitar. Usahanya kian moncer setelah pembelinya tidak hanya membeli kelabang hidup, tetapi juga kelabang kering.

Sebagai anak muda yang melek teknologi, Ricky kemudian menjajakan lipan melalui media sosial. Saat itulah usahanya terus berkembang, dan sampai dilihat oleh importir asal Vietnam. “Buyer dari Vietnam itu langsung lihat kemari. Dia bilang ini barang terbaik yang pernah dia lihat. Kami langsung diajak kerja sama,” cerita Ricky.

Tak tanggung-tanggung, pada ekspor perdana awal Agustus kemarin, dia berhasil mengirim sekitar 100 ribu ekor lipan kering ke Vietnam, dengan berat total 460 kg. Harga jualnya juga cukup tinggi, yakni Rp1,2 juta per kg.

Saat ini, dia makin sibuk untuk memenuhi permintaan dari negeri jiran itu. Meski tak mematok jumlah produksi dalam kerja sama itu, dia tetap berusaha untuk mengirim sebanyak mungkin ke Vietnam. Buyer di sana bersedia menerima berapapun banyaknya lipan kering yang dikirim Ricky.

Dia kembali mengulang cerita sebelumnya. Saat dia masih menjual lipan hidup, dalam sepekan dia hanya bisa menjual sekitar 5.000 ekor lipan. Namun, usaha itu terus tumbuh setelah banyak pembelinya yang menginginkan lipan kering. Permintaan makin melonjak setelah pengusaha Vietnam melirik lipan keringnya.

Usaha ini juga yang membantu warga di sana untuk mencari penghasilan tambahan dari profesi utama mereka yakni buruh kebun sawit dan petani. Dalam sehari, dia bisa mengumpulkan sekitar 5.000 hingga 8.000 ekor lipan dari petani.

Menurutnya, sekitar 80% warga di desa itu mamasok lipan ke tempatnya. Dia membeli lipan itu seharga Rp1.500 per ekor. Warga pun dengan senang hati mencari lipan itu. Hitung-hitung, hasil yang didapat cukup lumayan sebagai penghasilan tambahan.

Bahkan, karena harga yang cukup moncer itu, beberapa orang petani berburu lipan di kebun coklat, kebun sawit atau lokasi-lokasi lembab dari pagi hingga sore. Seharian, satu orang bisa mengumpulkan 50 hingga 60 ekor lipan. Jika beruntung, ada yang bisa mendapat 100 ekor.

Tak jarang dari para pemburu lipan itu tersengat atau tergigit. Bisa lipan ini cukup berbahaya, meski tak mematikan. Selain sakit luar biasa, sengatan lipan biasanya menimbulkan pembengkakan cukup besar pada bagian yang disengat. “Sudah sering disengat. Tapi bagaimana lagi. Ini matapencaharian saya,” kata Anton, salah satu pemburu lipan.

Lipan hidup hasil tangkapan itu kemudian ditampung Ricky. Setelah dihitung, lipan yang gigi atau sengatnya telah dicabut itu, disiram air agar mati. Setelah mati, kemudian dimasukkan ke dalam plastik dan diletakkan ke lemari pendingin hingga beku.

Esoknya, lipan itu dikeluarkan kemudian ditusuk pada lidi-lidi yang telah disiapkan. Setelah ditusuk, lipan itu diletakkan pada satu bidang nampan dari kawat, kemudian diletakkan ke  tungku untuk diasapi dan dikeringkan. Proses pengasapan dan pengeringan memakan waktu antara tiga hingga empat jam.

Perlakuan dengan lidi ini hanya untuk lipan yang panjangnya 15 sentimeter. Sedangkan lipan berukuran 13 hingga 14 sentimeter hanya dikeringkan menggunakan matahari, tanpa diasapi. Lipan ini juga tak ditusuk lidi, tetapi dibentangkan pada selembar kardus atau alas lain dengan menusuk jarum pentul pada ujung kepala dan ekor.

Pekerjaan inilah yang dilakukan oleh Titin dan kawan-kawannya, tiap hari. Bekerja sambil bersenda gurau, seolah-olah lagi gotong royong di tempat pesta. Sesekali, mereka harus mengejar ayam, yang diam-diam mengendap, mematuk lipan yang luput dari pandangan mereka. Di belakang rumah itu, ada sebidang kolam ikan dan hamparan sawah. Lumayan bikin sejuk. (Far/medan/inside)

Komentar

Berita Lainnya