oleh

Wisata Nelayan, Cukup ke Sungsang

POTENSI wisata Kampung Nelayan Sungsang yang terletak di Kecamatan Banyuasin II, Kabupaten Banyuasin, Sumsel ini bisa menjadi pilihan bagi pelancong untuk menghilangkan penat setelah disibukkan dengan aktivitas sehari-hari.

Ya, Desa Sungsang yang dulunya hanya bisa disambangi lewat laut, sekarang sudah bisa dijangkau lewat jalur darat. Dari pusat kota Palembang, menuju Kampung Nelayan Sungsang berjarak 60 km yang bisa ditempuh dengan kendaraan roda empat sekitar 2 jam.

Kampung Nelayan Sungsang yang menjadi tempat perkulakan hasil tangkapan nelayan harus ditempuh dengan menggunakan angkutan becak. Jarak dari Dusun Parit I menuju Kampung Nelayan Sungsang hanya 1 km. Hanya dengan merogoh kocek Rp50 ribu, traveller sudah bisa mencarter becak yang bisa mengantar sampai ke destinasi wisata. Abang Becak akan rela menunggu sampai kembali ke jalan aspal tempat memarkirkan kendaraan.

Bagi yang ingin membeli ikan atau udang hasil tangkapan nelayan dengan harga murah, pelancong bisa datang ke lokasi pada pukul 05.00-08.00 WIB. Saat itu nelayan baru pulang dari melaut dan menjual ikannya kepada pedagang atau masyarakat. Ikan atau udang yang dijual dijamin murah. Udang Satang yang dikenal dengan ukuran jumbo dibanderol hanya Rp100 ribu per kg. Sedangkan udang sebesar jempol tangan dijual hanya Rp40 ribu per kg.

Traveller yang akan menikmati hasil laut yang dibeli, bisa memanfaatkan Dermaga III untuk memasaknya. Untuk menggoreng atau membakar ikan atau udang, bisa memanfaatkannya. Masalah uang sewa dermaga tidak perlu khawatir. Pemerintah desa setempat menggratiskannya. Semua bisa menggunakan fasilitas tersebut tanpa harus membayar.

Becak
Becak yang bisa digunakan traveller menuju Kampung Nelayan Sungsang. foto: istimewa

Dermaga III menjadi salah satu tempat mangkal warga di sore hari sembari melihat pemandangan laut Sungsang. Remaja putra dan putri selalu memanfaatkan dermaga untuk berkumpul menunggu tibanya malam.

Kehidupan di Desa Sungsang terlihat damai dan memegang teguh adat kekeluargaan. Ada lima suku yang menetap di Desa Sungsang saat ini. Yakni Suku Bugis, Banyuasin, Jawa, Palembang, dan Padang yang merupakan pendatang terakhir.

Menariknya, warga Desa Sungsang tidak mengenal wabah COVID-19. Warga desa tersebut tidak ada yang mengenakan masker atau menjaga jarak seperti yang dikampanyekan pemerintah. Mereka menjalani kehidupan normal. Melakukan transaksi jual beli atau aktivitas lainnya.

“Di sini tidak ada COVID-19, pak. Corona takut dengan air garam,” kata Kadus Parit I Desa Sungsang Syamsuddin sambil berkelakar.

Syamsuddin menuturkan bahwa datangnya Suku Palembang ke desanya, menurut sejarah pada saat itu Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II pernah menitipkan anaknya di desa tersebut dan minta dijagakan. Peninggalan sejarah SMB II dibuktikan dengan adanya rumah limas di Desa Sungsang. Namun, sayang rumah tersebut sudah ditinggal penghuninya.

Pemerintah Kabupaten Banyuasin sendiri memberikan perhatian khusus dalam pengembangan wisata di Desa Sungsang. Pertengahan bulan tadi, Bupati Askolani Jasi menghadiri dan membuka Festival Kapal Nelayan Hias di desa tersebut.  (*)

Komentar

Berita Lainnya