oleh

Wisma Atlet akan Diaktifkan, BOR 56,4 %

SUMEKS.CO, PALEMBANG – Wisma Atlet di Kompleks Jakabaring Sport City (JSC) Jakabaring, akan kembali diaktifkan sebagai rumah sehat. Angka keterisian tempat tidur rumah sakit atau bed occupancy rate (BOR) di Sumsel berada di angka 56,4 persen, mendekati angka maksimal dari standar diterapkan WHO yakni 60 persen.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan, Dra Lesty Nuraini Apt MKes mengatakan, angka BOR Sumsel naik dari 30 persen menjadi 57 persen, hanya dalam waktu dua minggu.

“Dalam waktu dekat Pemprov pun akan kembali mengaktifkan Wisma Atlet Jakabaring, apabila BOR terus bertambah, agar tidak menyebabkan penuhnya pelayanan kesehatan bagi kasus positif Covid-19 disertai gejala,” kata Lesty, Jumat (7/5).

Lesty mengakui jumlah tracing di Sumsel jauh dari ideal. Dalam satu kasus konfirmasi, 100 orang kontak terdekat yang harus dilakukan testing, saat ini Sumsel baru mampu melakukan tracing dan testing kepada 30 kontak terdekat.

“Rata-rata paling banyak 2-3 orang yang ditesting dari satu orang terkonfirmasi positif. Hal tersebut disebabkan oleh banyak hal dan juga tergantung kemampuan petugas di daerah kabupaten/kota,” akunya.

Terpisah, Epidemiolog Unsri Iche Andriyani mengatakan, periode 4 – 7 Mei zona merah di Sumsel bertambah dari sebelumnya dua menjadi tiga. Ditambah Prabumulih. Indikator utama yang menyebabkan Prabumulih masuk dalam kategori zona merah karena penambahan kasus baru serta angka kematian yang meningkat.

Data Dinas Kesehatan Sumsel, jumlah kasus baru di Prabumulih sebanyak 43 kasus yang terjadi pada 26 April – 3 Mei. Seiring dengan itu pun terdapat penambahan kasus meninggal akibat Covid-19 sebanyak dua kasus dalam periode yang sama.

Sementara untuk angka BOR-nya berada diangka 31 persen dan masih tergolong aman. Penambahan jumlah kasus tersebut dianggap wajar dengan tingkat testing yang mencapai 26 persen. Dengan diperpanjangnnya PPKM di Sumsel hingga 17 Mei dan adanya penyekatan di perbatasan dirinya berhadap dapat menekan laju penambahan kasus.

“Adanya penyekatan yang dilakukan pemerintah saya rasa tepat karena melihat ledakan kasus satu minggu ke belakan luar biasa. Apalagi dari data Satgas tadi dijelaskan historis, setiap adanya libur panjang di Sumsel selalu ada kenaikan jumlah kasus. Memang trennya begitu dan mobilitas masyarakat meningkat,” ujar Iche.

Ia menekankan, pemerintah perlu fokus dalam pengendalian mobilitas masyarakat untuk menekan laju penambahan kasus Covid-19. Lalu tracing yang harus terus dilakukan dan perlu ada komitmen dari setiap pelaksana kebijakan di daerah untuk meningkatkan upaya tracing, testing, dan treatment (3T) di kabupaten/kota masing-masing.(bim)

Komentar

Berita Lainnya