oleh

Yuk, Dukung PNS Empat Lawang di Anugerah ASN

-Sumsel-185 views

TEBING TINGGI – PNS yang bertugas di Pemkab Empat Lawang, Aldiwan Haira Putra SSTP masuk lima besar nominasi Ajang Anugerah ASN 2019 yang diadakan oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB).

Kemarin (5/11) telah memasuki tahap wawancara. Dia menjadi kandidat keempat saat tahap wawancara dari 5 peserta kategori The Future Leader.

Saat dihubungi melalui WhatsApp, Aldiwan meminta dukungan dari teman-teman jurnalis Empat Lawang sehingga dimudahkan mengikuti tahap wawancara dan mendapatkan hasil yang terbaik.

“Ya hari ini (5/11) tahap wawancara, alhamdulilah bisa masuk 5 besar dan tahap akhir ini bisa berjalan dengan baik. Mohon doanya kando,” kata Aldiwan.

Lanjutnya, penguji saat tahap wawancara merupakan tokoh-tokoh hebat antara lain, Ketua Dewan Juri Direktur TVRI Helmi Yahya, anggota dewan juri Menteri PAN-RB Periode 2011-2014 Azwar Abubakar, anggota dewan juri 2 Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) Bima Haria Wibisana, dewan juri 3 Penulis Senior Maman Suherman.

“Dewan juri semuanya orang hebat, senang dan bangga bisa bertemu langsung dengan mereka. Serta bisa mendapat pengalaman dan pelajaran baru,” tuturnya.

Pemuda kelahiran Kerinci, 05 April 1995 ini, sejak Agustus 2018 ditugaskan Kementerian Dalam Negeri untuk mengabdi di Kabupaten Empat Lawang. Meskipun sebagai pendatang dan bertugas di daerah yang sama sekali tidak ia kenal sebelumnya tidak menjadikannya apatis dan malas-malasan.

“Pertama kali dengar nama Empat Lawang itu pas terima SK (Surat Keputusan), belum tahu sama sekali apa dan di mana Empat Lawang itu, awalnya takut karena tanya sama orang-orang dan browsing di internet yang keluar horor semua,” ceritanya sambil tertawa.

Seiring berjalan ia mulai menggalakkan program pemasangan internet gratis di desa dan tempat terpencil. Salah satunya di Desa Pancur Mas, Kecamatan Tebing Tinggi, Empat Lawang.

Aldiwan bekerja sama dengan dealer net1 cabang Empat Lawang yang spesial dilaksanakan menyambut Kemederkaan RI ke 74 yang diberi nama “ITIK KECIL” (Internet gratis untuk masyarakat terpencil).

Desa Pancur Mas dipilih karena sesuai dengan kriteria yang ditentukan yaitu letaknya yang jauh, terpencil dan tidak terjangkau oleh jaringan seluler apapun. Penyerahan perangkat diterima lansung oleh perangkat desa Pancur Mas.

“Dengan hal ini diharapkan masyarakat Pancuran Mas dapat merasakan kemerdekaan teknologi,” ucapnya.

Ternyata bukan kali ini saja suami dari Irda Mutiari Dinita, SH ini berkarya di Empat Lawang. Bahkan jauh sebelum ini ternyata dia adalah otak di balik tersedianya jaringan internet di komplek perkantoran pemerintah di Km 7 Jalan Poros.

Ia bercerita sejak awal bertugas di Empat Lawang, waktu itu pada bidang perbendaharaan yang mengurusi pencairan keuangan OPD, ia kesulitan untuk berkomunikasi dengan bendahara OPD yang berada di kantor Jalan Poros.

Sejak itu ia aktif berkoordinasi dengan dinas terkait untuk mencari solusi namun terkendala keterbatasan APBD yang dananya bisa mencapai miliaran rupiah.

“Ya, namanya pemerintah kita kan gak bisa begitu ada uang langsung beli saja, prosedurnya panjang dan biayanya juga sangat besar,” imbuhnya.

Namun ia tidak menyerah, sepertinya lulusan cumlaude IPDN/STPDN angkatan XXIV tahun 2017 ini paham betul konsep good government dimana peran swasta dalam pemerintahan.

Berkat kegigihannya itulah ia mampu meyakinkan net1 Indonesia yaitu penyedia jaringan internet yang fokus pengembangan jaringan di wilayah pelosok untuk hadir di Empat Lawang, setelah dilakukan serangkaian survei oleh tim dari perusahaan.

Alhasil kurang dari 5 bulan ia ditugaskan di Empat Lawang, tepatnya januari 2019 ia berhasil memecahkan masalah blankspot di komplek perkantoran Jalan Poros yang sudah belasan tahun terjadi.

“Ya senang dan bangga, karena permohonan kami dikabulkan, kan manfaatnya bisa dirasakan ratusan masyarakat. Memberi pekerjaan ke puluhan warga dan yang paling penting menghemat APBD hingga miliaran rupiah, kan lumayan bisa digunakan untuk keperluan lain,” ucapnya dengan sumringah.

Baginya saat ini penyelenggaraan pemerintahan tidak dapat dipisahkan dari teknologi khususnya internet. Aldiwan menyampaikan bahwa ia hanya ingin bermanfaat bagi masyarakat dan tempat tugasnya.

“Saya sekolah dibiayai oleh rakyat, ratusan juta nilainya selama 4 tahun, kemudian tamat diberi pekerjaan dan gaji dari rakyat juga. Maka sebenarnya yang saya lakukan ini belum ada apa-apanya dibanding yang rakyat berikan pada saya,” ucapnya haru.

Ternyata diluar itu semua, pemuda yang pernah meraih Sapta Abdi Praja (Rangking terbaik yudisium di kampus IPDN) juga aktif membina forum generasi muda tanpa narkoba dan forum lingkar pena (FLP). (eno)

Komentar

Berita Lainnya